15 June 2024
28.5 C
Palu

Minta Evaluasi dan Peninjauan Kembali Besaran Pajak

Must read

PALU – Panitia Khusus (Pansus) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu telah mengungkapkan temuan yang mengejutkan terkait pembayaran pajak di beberapa restoran dan usaha di wilayah tersebut. Temuan itu diungkapkan pada Kamis (27/7) kemarin, saat pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Salah satu anggota Pansus, Farden Saino, mengungkapkan bahwa telah ditemui beberapa pelaku usaha atau pemilik restoran yang masih bersembunyi terkait pembayaran pajak.

“Saya sudah beberapa kali makan di restoran besar di Kota Palu. Mereka menawarkan struk pembayaran yang bisa ditulis tangan atau dicetak mesin. Menurut saya, lebih baik menetapkan besaran pajak restoran per bulan daripada menggunakan sistem tapping box, karena hal itu dapat dimanfaatkan untuk menghindari kewajiban pajak dengan cara bermain kucing-kucingan,” ungkapnya.

Selain masalah pajak restoran, Pansus juga menyoroti besaran pajak sarang burung walet yang dianggap terlalu kecil dan tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh. Pansus mendorong Pemerintah Kota untuk berkoordinasi dengan Balai Karantina guna mengetahui secara pasti pendapatan yang diperoleh dari setiap sarang burung walet.

Farden menambahkan, bahwa dirinya memiliki beberapa teman yang berbisnis sarang burung walet. Pendapatan sebesar Rp 500 juta dianggap sangat kecil.

“Oleh karena itu, kami berharap agar masalah ini dianggap serius sehingga kebocoran PAD tidak lagi terjadi,” terangnya.

Selain mengenai pajak restoran dan sarang burung walet, Pansus juga menyoroti beberapa sumber pendapatan dari sektor pajak lainnya, seperti pajak reklame dan pajak MBLB (Mineral Bukan Logam dan Batuan) yang dianggap terlalu kecil.

“Hal ini menandakan perlunya evaluasi dan peninjauan kembali besaran pajak dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara keseluruhan,” tegasnya.

Permasalahan serupa juga diungkapkan oleh anggota Pansus lainnya, Rezki Hardianti Ramadani, yang juga telah mengalami pengalaman serupa. Ia menekankan bahwa jika masalah ini terus dibiarkan, maka kebocoran PAD akan terus berlanjut.

“Perlu ada solusi konkret mengenai hal ini. Saya bukan hanya sekali mengalami hal seperti ini, namun sudah beberapa kali. Bahkan, terdapat kasus di restoran yang memiliki skala besar,” ujar Rezki dengan penuh kekhawatiran. (who)

Latest article

More articles

WeCreativez WhatsApp Support
Silahkan hubungi kami disini kami akan melayani anda 24 Jam!!