Kodam XXIII/Palaka Wira mengimbau seluruh unsur lintas sektor untuk mengutamakan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sulawesi Tengah, menyusul pelaksanaan simulasi penanganan karhutla yang melibatkan TNI, Polri, Basarnas, pemadam kebakaran, dan pemerintah daerah di Kabupaten Sigi pada Jumat (23/10/2026).
Menurut Pangdam XXIII/Palaka Wira, Mayjen TNI Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar, sebagian besar pemicu karhutla berasal dari aktivitas manusia yang kurang berhati-hati, seperti pembukaan lahan dengan cara membakar, pembuangan puntung rokok, dan pembakaran sampah tanpa pengawasan.
"Jadi pencegahan dan sosialisasi kepada masyarakat menjadi prioritas utama untuk menanggulangi ancaman kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sulawesi Tengah," kata Mayjen Jonathan B. P. Sianipar.
Mayjen Jonathan menegaskan bahwa penanggulangan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman, melainkan harus dimulai dari upaya pencegahan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk kelompok masyarakat di sekitar kawasan hutan dan lahan.
Tingkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat
Dalam keterangan yang diterima ANTARA, Pangdam menyatakan perlunya sosialisasi intensif kepada warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar dan lebih berhati-hati dalam aktivitas yang berisiko menimbulkan api. Ia juga menyebut upaya pencegahan efektif karena medan yang berat dan cuaca ekstrem sering menyulitkan petugas pemadaman di lapangan.
- Simulasi di Kabupaten Sigi melibatkan TNI, Polri, Basarnas, pemadam kebakaran, dan pemerintah daerah.
- Pangdam menilai pemicu utama karhutla adalah aktivitas manusia seperti pembukaan lahan dengan pembakaran.
- Penanganan karhutla perlu sinergi lintas sektor dan peningkatan kesadaran masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Mayjen Jonathan berharap dengan penanganan terpadu dan penguatan pencegahan, potensi titik panas dapat ditekan sehingga kelestarian lingkungan di Sulawesi Tengah lebih terjaga. Pernyataan resmi Kodam itu juga mendorong pemerintah daerah dan aparat terkait memperkuat program pencegahan berbasis komunitas sebagai bagian dari langkah antisipatif sebelum musim kemarau memburuk.